Selasa, 20 April 2010

KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL

Pengertian Manusia Sebagai Makhluk yang Hidup Berkelompok.

Sudah kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk berkelompok. Sebagai makhluk sosial dalam hubungannya manusia selalu hidup bersama dengan manusia yang lainnya. Tanpa bantuan dengan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain juga, manusia bisa berkomunikasi dan berbicara. Maka oleh karena itu manusia dikatakan sebagai Makhluk sosial atau makhluk yang hidup berkelompok, karena pada diri manusia terdapat dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi).

Macam-macam Kelompok Sosial.

Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:

  • Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
  • Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompok yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
  • Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh: Kelompok pertemuan, kerabat.
  • Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.

Kelompok-kelompok Sosial yang Tidak Teratur

  1. Kerumunan (crowd) → terjadi karena banyaknya berbagai macam aktivitas manusia yang dapat menimbulkan daya tarik suatu massa yang selanjutnya berkumpul pada suatu tempat tertentu.

Contoh:

· Kecelakaan lalu lintas, nonton bioskop.

· Walaupun mereka berkumpul di suatu tempat secara kebetulan, tetapi kesadaran adanya orang lain membuktikan adanya ikatan sosial.

· Ciri-ciri kerumunan : berkumpulnya individu-induvidu secara fisik dan bersifat sementara.

  1. Publik → khalayak umum atau khalayak ramai.

· Publik bukan kelompok yang utuh atau merupakan kesatuan.

· Interaksi dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui media komunikasi. Contoh : surat kabar.

· Setiap individu lenih mengutamakan kepentingan pribadinya.

Masyarakat Desa dan Masyarakat Kota

Masyarakat pedesaan kehidupannya berbeda dengan masyarakat perkotaan. Perbedaan-perbedaan ini berasal dari adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan lingkungan, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap personalitas dan segi-segi kehidupan.

Dalam memahami masyarakat pedesaan dan perkotaan, tentu tidak dapat mendefinisikannya secara universal dan objektif, tetapi berpatokan pada ciri-ciri masyarakat. Ciri-ciri itu ialah adanya sejumlah orang, tinggal dalam suatu daerah tertentu, adanya sistem hubungan, ikatan atas dasar kepentingan bersama, tujuan dan bekerja sama, ikatan atas dasar unsur-unsur sebelumnya, rasa solidaritas, sadar akan adanya interdepensi, adanya norma-norma dan kebudayaan.

Untuk menentukan suatu komunitasapakah termasuk masyarakat pedesaan atau perkotaan, dari segi kuantitatif sulit dibedakan karena adanya hubungan antara konsentrasi penduduk dengan gejala sosial, dan perbedaannya bersifat graudal.

Ciri lain bahwa desa terbentuk eratkaitannya dengan naluri alamiah untuk mempertahankan kelomponya, melalui kekerabatan tinggal bersama dalam memenuhi kebutuhannya. Perkembangan lanjut suatu desa akan memunculkan desa lainnya, sebagai fungsi induk desa. Sedangkan masyarakat kota ditekankan dari pengertian kota dengan ciri dan sifat kehidupannya serta kekhasan dalam interest hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar